Elegi Pagi

Dua kali aku melihatmu.

Begitu jelas rupamu sampai-sampai aku kira itu kita benar bertemu.

 

Yang pertama, kulihat kau duduk di kursi mobil.

Saat itu terang.

Aku lihat rupamu dengan jelas. Rambut pendek yang tipis sebahu. Wajah lebar seperti loyang kue, hidung besar yang menghelakan napasmu, mata sipit yang memandang lurus ke depan, maupun bibir kecil yang tersenyum lemah waktu aku bertanya,

“Kau suka?”

Aku pun teringat sesaat setelahnya: kau tak pernah menjawabnya pertanyaan itu.

Bukan, bukan itu.

Kau tak bisa menjawabnya.

 

Di hari lain aku melihatmu terduduk bersama kawanmu dengan asyik.

Kulihat kau tertawa, padahal tak jelas kalian berkata apa.

Aku di sana hanya diam dan memperhatikan bagaimana engkau tampak senang,

atau kerut pada wajahmu yang tersisa perjuangan waktu dulu.

Kau buat noktah menjadi garis panjang.

Kadang lurus, kadang bergelombang.

Namun, garis itu tak lagi kau buat.

Bukan di sini.

 

Aku terus melihatmu.

Lalu, seperti sebelumnya aku bertanya,

“Kau suka?”

Kali ini aku melihatmu dengan lebih jelas wajah yang menoleh ke arahku.

Tawamu reda sebagaimana kawan-kawanmu pergi menjauh.

Kau pandangi aku dengan matamu yang sayu.

Pada bibirmu yang berwarna merah jambu, kau lengkungkan senyummu untukku.

Lagi, kau tak menjawab;

bukan karena tak mau, tapi karena tak bisa.

Kemudian aku teringat:

hari-hari sebelumnya dari dua itu.

Saat terakhir aku melihatmu.

 

Kau tutup bola matamu.

Tak kudengar dengkurmu, maupun melihat kakimu bergerak-gerak seolah kau mengayuh sekoci.

Aku selalu tahu sejak lama:

kau tak pernah tenang saat memejamkan mata.

Aku tak tahu kenapa,

kau pun juga.

Namun, saat itu kau tidur dengan lelap,

benar-benar lelap.

Saat itu, aku sadar bahwa ini adalah realita,

dan sebelumnya hanyalah imaji belaka.

[RP FIC] mimpi #3

Arttu Whipple kembali bermimpi. Mimpi itu merupakan lanjutan dari mimpi sebelumnya. Mengenai dirinya di dunia lain, yang baru melamar seseorang.

Namun di mimpi kali ini Arttu tidak bangun dengan senyum sumringah. Pipinya lengket dengan air mata, matanya berat untuk di buka, kepalanya terlalu pening untuk sekedar menoleh, dan dadanya terasa sesak. Saat gedor pada pintu kamarnya, disertai suara kakeknya yang tegas, dia tidak mampu menyahut. Dia tetap diam terbaring di sana dan merenungkan mimpi yang baru saja didapatnya.

(more…)

[RP FIC] mimpi #2

“Oh, jangan-jangan kau mau jadi calonnya? Ha ha. Kalau kau memang mau, kumasukan namamu dalam daftar.” Arttu Whipple, berambut ungu kala itu, tersenyum timpang sambil mengayunkan kakinya di bawah meja. Dia topang wajahnya dengan kedua tangan dan memperhatikan perempuan berambut hitam itu lekat-lekat, tak sabar menanti reaksinya.

“Oh, Kau sudah punya list-nya? Hmm, menarik. Aku ingin coba juga.” Berkebalikan dengan Arttu, perempuan itu fokus pada makannya dan tidak memperhatikan lawan bicaranya saat berbicara.

(more…)

[RP FIC] mimpi #1

Hal yang dicarinya pertama kali ialah cermin untuk mematut diri. Dia sentuh rambutnya yang berwarna cokelat dan memastikan bentuknya masih bergelombang. Kemudian dia dekatkan wajahnya untuk melihat kedua irisnya, sama-sama cokelat, bukan hitam-merah.

Semalam dia bermimpi, mimpi yang begitu absurd. Rambutnya platina, matanya tertutup satu. Sebelah kanan beriris hitam, sementara sebelah kiri yang ditutupnya berwarna merah darah. Mulanya dia berpikir itu mimpi acak yang datangnya sekali dan cepat berganti ke mimpi lain, dengan anonim sebagai tokoh utama. Namun, saat orang lain berteriak “Arttu!” dia tahu pemuda itu adalah dirinya dalam wujud lain.

(more…)

[DRABBLE] Pengisi Jalan

Banyak orang di jalan itu menyerukan namanya. Tak semuanya yang di sana tahu siapa dia, kenal siapa dia. Jangankan itu. Bertemu atau ingat wajahnya saja belum tentu. Hanya nama yang mereka ingat. Itupun karena diucap berkali-kali.

Di bawah teriknya sinar matahari, mereka masih berjalan dengan peluh di sekujur tubuh. Nyanyian yang sama terus terdengar bagai doktrin masyarakat sekitar. Ada yang bertanya, “Siapa dia?” dan yang ditanya hanya menggeleng dan berkata dengan cepat “Udah, pilih aja”.

Bunyi klakson menggema, suara makian terdengar. Mereka masih berjalan mengitari kota, di atas jalan aspal bagai wajah di atas kompor. Tak habis pikir, mereka yang melihatnya. Jalanan penuh karena mereka. Orang marah karena mereka. Tapi ingatkah kita untuk siapa mereka ada di sana?

Kala mereka ditanyakan hal itu, mereka akan berhenti melangkah dan suara nyanyian itu sirna. Mereka pun terdiam. Keheningan itu jelas terasa. Si Penanya bisa saja mencemooh atau tetap menunggu dalam kebisuan. Dan ketika jawaban itu muncul, bisa saja dia jadi menganga atau malah semakin kesal.

“Ya udah, sih, pilih aja.”

Semua pertanyaan, sederhana maupun biasa, dijawab mereka dengan frase sama, namun ada variannya.

Mereka tak ada pilihan. Hanya jawaban itu yang bisa diutarakan. Mereka mana mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mereka mana bisa bilang karena dengan begitu upah mereka bisa dipangkas tanpa ampun.

Bagaimana anak dan istri mereka?

Itu adalah alasan lain mengapa mereka tak ingin banyak bicara. Itu adalah satu alasan dari sekian hal lain yang mereka jadikan landasan turun ke jalan. Lalu ketika tugas suci itu tuntas, mereka akan kembali ke rumah dan berkumpul dengan orang-orang tercinta, terdekat, atau barang-barang yang ditinggal.

“Dia pasti menang!” telunjuk Pak Heri mengarah pada sosok di layar kaca. Lalu anak gadisnya itu pun mengangkat kepala dan menghentikan makan malamnya.

“Kok bisa, Pak?” Dewi terheran-heran melihat bapaknya berbicara begitu percaya diri.

“Makan lagi saja, Nak, Bapak kamu tuh sok-sokan jadi dukun.” Bu Heri pun memunclkan tawa di rumah kayu itu.

“Ojo ngono lah, nomor kui paling cetho, Bu.1” Pak Heri, meski tadi juga ikut tertawa, tetap ngotot kalau sosok di layar kaca itulah yang akan menang.

 

catatan kaki: Ditulis pada Dec 26, 2014.

terjemahan: Jangan gitu, lah, B. Nomor ini yang paling bagus.

[Cerpen] Reuni

Hari itu, ketika matahari berada di puncak kepala, Rini berjalan masuk ke dalam sebuah kafe. Ia berhenti sesaat setelah melewati pintu kafe, membuat bel yang berada di sana berdering riang diikuti sambutan dari pelayan di balik konter. Ia membuka kacamata hitam berlensa besar itu dan memasukannya ke dalam tas Gucci berwarna merah. Lalu ia edarkan pandangannya. Hanya melalui media sosial mereka berhubungan selama lima tahun terakhir karena temannya yang satu itu menghabiskan masa kuliahnya di negeri antah berantah dan meninggalkan dirinya sebatangkara di sini.

(more…)

Rekomendasi Webtoon Indonesia (bagian #1)

Halo, semuanya!

Udah lama banget saya gak nulis di blog ini, hehe. Jadi kali ini saya mau buat daftar rekomendasi web comic yang ada di webtoon Indonesia. Sebenarnya ini wacana udah lama banget, tapi baru mengumpulkan niatnya sekarang.

Judul-judul webtoon yang saya tampilin di sini punyanya creator Indonesia–alias karya lokal. Ada yang sudah tamat, ada juga yang masih berlanjut. Untuk yang sudah tamat, akan diberi tanda ☑.  Untuk link-nya, langsung klik saja judulnya.

Nah mari kita mulai! (more…)

[CERPEN] Kucing-Kucing yang Merdeka

Sudah lama kota itu tidak dijajaki manusia sebanyak itu. Pun bagi Jamal dan 79 manusia lainnya, ini pertama kalinya mereka di sana, membentuk antrean panjang di pintu gerbang kota tersebut.

Selama ini, Jamal hanya mendengar tentang kota itu dari omongan orang sekitar atau media. Ada banyak versinya, tapi semua kurang lebih serupa. Puluhan tahun yang lalu jumlah kucing membeludak. Mulai dari negara-negara di Barat, hingga sampai ke Indonesia. Namun, di antara sekian banyak negara, para kucing di Jepang lah yang bisa berkoalisi pertama kali dengan manusia. Mereka berhasil menjadi kucing merdeka. Karenanya, mereka melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk membantu saudara sespesies, seperti di Indonesia.

Di Indonesia waktu itu, khususnya di Ibukota, terjadi perseteruan antara kucing dan manusia. Para kucing rumah kabur meninggalkan pemiliknya. Mereka menanggalkan baju, sepatu, dan kalung pada leher mereka. Mereka berkumpul tanpa mengenal besar tubuh, panjang bulu dan ekor, ataupun kelamin. Mereka mengeong dengan panjang dan nada yang sama.

“Merdeka!” itulah terjemahannya dalam bahasa manusia. (more…)

[CERPEN] Tentang Afif

Itu Sabtu, pertama kali kabar tersebut tersiar. Katanya anak Pak Sarmin habis dihajar 10 bocah. Pulang-pulang wajahnya babak-belur. Ibunya menangis, kencang sampai para tetangga penasaran, tapi hanya Bu Ruti yang mau repot-repot mampir.

“Ada apa Bu Asih?” suara mengiba itu punya Bu Ruti. Rumahnya persis di sebelah rumah Pak Sarmin. Dia yang paling pertama tiba, menggunakan daster merah dengan kembang mawar warna kuning.

Bu Asih, ibunya Afif, masih tersedu-sedu melihat wajah anaknya yang babak belur. Dia bilang pada Bu Asih, “Afif, Bu! Lihat!”

Baru ketika dibilang begitu, Bu Asih melihat wajah Afif.

“Astagfirullah! Pak! Pak Kasim!”  Bu Ruti berteriak. Pak Kasim, satpam kompleks yang selalu nongkrong di pos depan datang karena dipanggil. Sebenarnya sedari tadi Pak Kasim penasaran dengan apa yang terjadi di rumah Pak Sarmin. Menurutnya, memang keluarga itu rada-rada, jadi kalau mendengar Bu Asih menangis, yah, biasa saja.

Sewaktu tiba di rumah Pak Sarmin, Pak Kasim memastikan apa yang terjadi dengan bilang, “Ada apa, Bu?”

“Tolong antarkan Nak Afif ke puskesmas, Pak,” pinta Bu Ruti, sementara Bu Asih hanya bisa terisak lesu.

Alhasil Afif dibawa ke puskesmas oleh Pak Kasim, sementara Bu Ruti menenangkan Bu Asih.

(more…)

[Review] Girls in The Dark

22432940

Genre: Thriller, Drama, Mistery

Kategori: Fiksi, Novel Terjemahan

Penulis: Akiyoshi Rikako

Ukuran: 13 x 19 cm

Tebal: 290 halaman

Harga: Rp 65.000

Penerbit : Haru

Sinopsis: Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.

Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?

Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

Review: Akiyoshi Rikako lagi ya. Setelah membaca The Dead Returns, saya jadi tertarik sama cerita Akiyoshi-sensei yang lain. Berhubung saya punya kenalan orang di penerbit Haru dan kalau beli di dia dapet diskon, saya beli dua buku Akiyoshi-sensei.

Novel ini berawal dengan kematian Shiraishi Itsumi, gadis populer di SMA Katolik dan juga anak pengelola yayasan. Itsumi digambarkan sebagai gadis cantik, kaya, pinter, dan dikagumi oleh semua orang. Dia medirikan ulang klub sastra dan merenovasi kapel lama untuk dijadikan salon (tempat buat kongkow gitu deh). Deskripsi soal salon ini wow. Ada chandelier, rak buku dengan buku-buku yang langka, dapurnya bagus, dan kemewahan lainnya.

Kematian Itsumi menjadi pertanyaan orang-orang. Mengapa gadis ini memilih untuk mati? Lalu apa maksud dari bunga lily yang dia pegang?

Nah ….

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Belum apa-apa, saya sudah dibuat kaget karena format cerita yang gak biasa. Jadi konten novel ini adalah kumpulan cerpen yang anggota sastra buat untuk mengenang Shiraishi Itsumi di acara rutin klub sastra, yaitu yami-nabe (mencampur bahan makanan yang aneh ke dalam satu gentong, lalu dimakan sama-sama; ada syarat bahan makanan yang boleh dimasukkan). Berhubung saya sudah pengalaman dengan cerita buatan Akiyoshi-sensei yang bisa banget memanfaatkan 1st POV untuk menipu pembaca, saya sudah berhati-hati selama membaca cerpen-cerpen karya keenam gadis sastra ini. Setiap cerpen yang ditulis vibe-nya beda, seakan ditulis oleh karakter itu sendiri. Kalau versi Jepang-nya mungkin cara menulisnya kanji-nya juga beda karena sepengalaman saya main game Jepang, dialog karakternya yang ngomong “ore” atau “boku” bisa ditulis dengan cara yang berbeda-beda. Jadi saya ngebayangin pasti berwarna-warni banget novelnya dan effort yang Akiyoshi-sensei lakukan besar banget buat novel ini (banyak nyari referensi juga karena deskripsi dia tentang latar belakang karakter maupun tempat begitu kuat). Saling tuduhnya berasa banget dan ketika ganti cerpen/karakter, kerasa banget bedanya (berhubung saya bacanya maraton). Ada karakter orang luar (Diana) dan isinya mengambil perspektif orang luar mengenai pergaulan di sekolah putri Jepang, terus ada yang ingin dianggap adek ketemu gede, kerasa juga manja-manjanya. Keinginan si Itsumi bener-bener dibangun dengan kokoh.

Itsumi sebagai tokoh utama gentayangan terus di semua cerita, meski dia sudah tiada. Sosok Itsumi bener-bener dikagumi oleh banyak orang dan mary sue banget (awalnya). Pas saya baca bagian terakhir … seperti biasa Akiyoshi-sensei bikin kamu pengin lempar buku. Jujur aja saya sempet lupa sama karakter lain. Iya sih, disebut beberapa kali, cuma kayak keberadaan dia tipis banget, beda sama Itsumi yang kuat banget.

Saya merasa kopong pas baca. Sedih abisnya.

Saya udah was-was padahal. Beberapa hal memang sesuai dugaan saya, tapi ternyata ada lebih banyak rahasia yang berhasil Akiyoshi-sensei tutupi dengan mulus. Saya berasa digampar berkali-kali pas baca bagian akhir. Semua petunjuk disebar oleh Akiyoshi-sensei.

Saya berasa baca Howl’s Moving Castle. Gaya berceritanya mirip. Saya dulu sebelum baca Howl’s Moving Castle diwanti-wanti sama temen, “Baca yang teliti deskripsinya biar nyambung pas di bagian akhir”. Nah, Akiyoshi-sensei ini nebar petunjuknya mirip Diana Wynne Jones.

Jadi buat yang mau baca novel ini, baca dengan tenang, resapi deskripsinya, karena foreshadowing-nya cakep banget. Dia cuma ngasih clue-nya sekalimat aja, tapi ternyata itu berpengaruh besar. Dialognya juga enak dan karakterisasi tiap karakternya juga kuat.

Novel ini udah dicetak sekian belas. Buat yang belum punya bukunya, buruan beli gih, nanti harganya makin mahal (ehe). Yang jelas, novel ini gak rugi buat dikoleksi.

Rating dari saya 5/5. Abisnya cakep banget, Man!