[RP FIC] mimpi #3

Arttu Whipple kembali bermimpi. Mimpi itu merupakan lanjutan dari mimpi sebelumnya. Mengenai dirinya di dunia lain, yang baru melamar seseorang.

Namun di mimpi kali ini Arttu tidak bangun dengan senyum sumringah. Pipinya lengket dengan air mata, matanya berat untuk di buka, kepalanya terlalu pening untuk sekedar menoleh, dan dadanya terasa sesak. Saat gedor pada pintu kamarnya, disertai suara kakeknya yang tegas, dia tidak mampu menyahut. Dia tetap diam terbaring di sana dan merenungkan mimpi yang baru saja didapatnya.

(more…)

[RP FIC] mimpi #2

“Oh, jangan-jangan kau mau jadi calonnya? Ha ha. Kalau kau memang mau, kumasukan namamu dalam daftar.” Arttu Whipple, berambut ungu kala itu, tersenyum timpang sambil mengayunkan kakinya di bawah meja. Dia topang wajahnya dengan kedua tangan dan memperhatikan perempuan berambut hitam itu lekat-lekat, tak sabar menanti reaksinya.

“Oh, Kau sudah punya list-nya? Hmm, menarik. Aku ingin coba juga.” Berkebalikan dengan Arttu, perempuan itu fokus pada makannya dan tidak memperhatikan lawan bicaranya saat berbicara.

(more…)

[RP FIC] mimpi #1

Hal yang dicarinya pertama kali ialah cermin untuk mematut diri. Dia sentuh rambutnya yang berwarna cokelat dan memastikan bentuknya masih bergelombang. Kemudian dia dekatkan wajahnya untuk melihat kedua irisnya, sama-sama cokelat, bukan hitam-merah.

Semalam dia bermimpi, mimpi yang begitu absurd. Rambutnya platina, matanya tertutup satu. Sebelah kanan beriris hitam, sementara sebelah kiri yang ditutupnya berwarna merah darah. Mulanya dia berpikir itu mimpi acak yang datangnya sekali dan cepat berganti ke mimpi lain, dengan anonim sebagai tokoh utama. Namun, saat orang lain berteriak “Arttu!” dia tahu pemuda itu adalah dirinya dalam wujud lain.

(more…)

[DRABBLE] Pengisi Jalan

Banyak orang di jalan itu menyerukan namanya. Tak semuanya yang di sana tahu siapa dia, kenal siapa dia. Jangankan itu. Bertemu atau ingat wajahnya saja belum tentu. Hanya nama yang mereka ingat. Itupun karena diucap berkali-kali.

Di bawah teriknya sinar matahari, mereka masih berjalan dengan peluh di sekujur tubuh. Nyanyian yang sama terus terdengar bagai doktrin masyarakat sekitar. Ada yang bertanya, “Siapa dia?” dan yang ditanya hanya menggeleng dan berkata dengan cepat “Udah, pilih aja”.

Bunyi klakson menggema, suara makian terdengar. Mereka masih berjalan mengitari kota, di atas jalan aspal bagai wajah di atas kompor. Tak habis pikir, mereka yang melihatnya. Jalanan penuh karena mereka. Orang marah karena mereka. Tapi ingatkah kita untuk siapa mereka ada di sana?

Kala mereka ditanyakan hal itu, mereka akan berhenti melangkah dan suara nyanyian itu sirna. Mereka pun terdiam. Keheningan itu jelas terasa. Si Penanya bisa saja mencemooh atau tetap menunggu dalam kebisuan. Dan ketika jawaban itu muncul, bisa saja dia jadi menganga atau malah semakin kesal.

“Ya udah, sih, pilih aja.”

Semua pertanyaan, sederhana maupun biasa, dijawab mereka dengan frase sama, namun ada variannya.

Mereka tak ada pilihan. Hanya jawaban itu yang bisa diutarakan. Mereka mana mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mereka mana bisa bilang karena dengan begitu upah mereka bisa dipangkas tanpa ampun.

Bagaimana anak dan istri mereka?

Itu adalah alasan lain mengapa mereka tak ingin banyak bicara. Itu adalah satu alasan dari sekian hal lain yang mereka jadikan landasan turun ke jalan. Lalu ketika tugas suci itu tuntas, mereka akan kembali ke rumah dan berkumpul dengan orang-orang tercinta, terdekat, atau barang-barang yang ditinggal.

“Dia pasti menang!” telunjuk Pak Heri mengarah pada sosok di layar kaca. Lalu anak gadisnya itu pun mengangkat kepala dan menghentikan makan malamnya.

“Kok bisa, Pak?” Dewi terheran-heran melihat bapaknya berbicara begitu percaya diri.

“Makan lagi saja, Nak, Bapak kamu tuh sok-sokan jadi dukun.” Bu Heri pun memunclkan tawa di rumah kayu itu.

“Ojo ngono lah, nomor kui paling cetho, Bu.1” Pak Heri, meski tadi juga ikut tertawa, tetap ngotot kalau sosok di layar kaca itulah yang akan menang.

 

catatan kaki: Ditulis pada Dec 26, 2014.

terjemahan: Jangan gitu, lah, B. Nomor ini yang paling bagus.

[Cerpen] Reuni

Hari itu, ketika matahari berada di puncak kepala, Rini berjalan masuk ke dalam sebuah kafe. Ia berhenti sesaat setelah melewati pintu kafe, membuat bel yang berada di sana berdering riang diikuti sambutan dari pelayan di balik konter. Ia membuka kacamata hitam berlensa besar itu dan memasukannya ke dalam tas Gucci berwarna merah. Lalu ia edarkan pandangannya. Hanya melalui media sosial mereka berhubungan selama lima tahun terakhir karena temannya yang satu itu menghabiskan masa kuliahnya di negeri antah berantah dan meninggalkan dirinya sebatangkara di sini.

(more…)

Rekomendasi Webtoon Indonesia (bagian #1)

Halo, semuanya!

Udah lama banget saya gak nulis di blog ini, hehe. Jadi kali ini saya mau buat daftar rekomendasi web comic yang ada di webtoon Indonesia. Sebenarnya ini wacana udah lama banget, tapi baru mengumpulkan niatnya sekarang.

Judul-judul webtoon yang saya tampilin di sini punyanya creator Indonesia–alias karya lokal. Ada yang sudah tamat, ada juga yang masih berlanjut. Untuk yang sudah tamat, akan diberi tanda ☑.  Untuk link-nya, langsung klik saja judulnya.

Nah mari kita mulai! (more…)

[CERPEN] Kucing-Kucing yang Merdeka

Sudah lama kota itu tidak dijajaki manusia sebanyak itu. Pun bagi Jamal dan 79 manusia lainnya, ini pertama kalinya mereka di sana, membentuk antrean panjang di pintu gerbang kota tersebut.

Selama ini, Jamal hanya mendengar tentang kota itu dari omongan orang sekitar atau media. Ada banyak versinya, tapi semua kurang lebih serupa. Puluhan tahun yang lalu jumlah kucing membeludak. Mulai dari negara-negara di Barat, hingga sampai ke Indonesia. Namun, di antara sekian banyak negara, para kucing di Jepang lah yang bisa berkoalisi pertama kali dengan manusia. Mereka berhasil menjadi kucing merdeka. Karenanya, mereka melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk membantu saudara sespesies, seperti di Indonesia.

Di Indonesia waktu itu, khususnya di Ibukota, terjadi perseteruan antara kucing dan manusia. Para kucing rumah kabur meninggalkan pemiliknya. Mereka menanggalkan baju, sepatu, dan kalung pada leher mereka. Mereka berkumpul tanpa mengenal besar tubuh, panjang bulu dan ekor, ataupun kelamin. Mereka mengeong dengan panjang dan nada yang sama.

“Merdeka!” itulah terjemahannya dalam bahasa manusia. (more…)