Biarkan Mereka Bercerita

Kamu perlu tahu. Ada satu permainan yang memaksamu untuk memanjat tebing-tebing itu. Mendaki karst yang tidak mungkin kau lakukan.

Tidak.

Mungkin saja itu terjadi, tapi kau bukanlah seorang ahli, bukan juga peneliti.

Memanjat tebing terkadang bikin kamu kalut, atau juga takut. Tapi kalau sudah sampai di puncak, tentu kau bakal salut.

Hebat. Luar biasa. Kau tidak mampus.

Tapi, ya, nasib tidak selalu bagus. Lebih sering kau terjatuh. Atau tersesat, lalu jatuh.

Macam-macam, lah, alasannya. Yang jelas, yang paling menyebalkan: adalah lagu yang terdengar damai sebagai latar. Kau pikir itu seperti sebuah hinaan. Atau menjadi rekuiem mereka yang berusaha sampai ke puncak.

Ya, memang nasib. Mau dikatakan apalagi. Toh, kau sudah berusaha untuk mendaki. Untuk sekedar mengais peti.

Lara

Melihatnya mengerucutkan bibir atau enggan makan kerap kali membuatku merana. Aku tidak mengeryi gerangan apa yang membuatnya bertingkah demikian. Pulas senyumnya lenyap, matanya memandang kekosongan, dan bibirnya terkatup rapat.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Jika me-reka ulang kehidupannya, menyebutkan satu persatu, hatiku terasa diiris-iris. Dia pernah bilang padaku, “Joko, aku lelah.”

Itu sebelum ia bisu. Sebelum ia hanya berbaring di ranjang. Pernah ia hilang akal. Tapi, sewaktu ia masih bisa merangkai kata meski ngawur isinya.

Aku tidak pernah memahami apa yang ada di kepala dan apa pula yang terjadi padanya. Suatu hari ia terjatuh dan terlelap seminggu. Semua orang bersyukur dan bilang itu adalah keajaiban. Namun itu tidak berlaku untuk Ajeng, nama wanita yang kubicarakan sejak tadi.

Ia melara. Ia menderita.

Orang bilang dengan bersakit-sakit seperti itu, ia dijanjikan surga.

Namun hidupnya masih saja menderita.

Lantai 33

Lantai 33.

Hanya itu yang punya lift khusus. Kau tidak bisa naik ke sana dengan lift di sebelah kanan, hanya yang kiri.

Orang bilang, cuma orang gila yang tinggal di sana. Tapi kalau dilihat-lihat, Bu Ratna kelihatan normal. Ia memang aneh—pakai daster kemana-mana, tapi bicaranya amat formal. Coba saja ajak beliau bicara, dia bakal tersenyum santun, dan melantunkan cerita. Tentang suaminya yang hilang, atau anaknya yang dipenggal.

Lalu ada pula penghuni lain bernama Bu Siti.

Orang bilang Bu Siti terlalu anarkis. Waktu muda ia kelewat kritis. Tidak tahu kenapa, ia jadi mudah sinis. Seringnya, Bu Ratna menenangkan Bu Siti.

“Hush, hush, kalau begini terus, Nyawa Ibu bakal cepat habis,” Bu Ratna menjadikan tangan kirinya seumpama pistol. “Dor!”

“Waduh!” Bu Situ jadi takut. “Bahaya uga kalau saya ikut-ikutan suami Ibu.” Mulutnya dikunci rapat dan bergegas naik ke lantai 33.

Dan di antara orang-orang yang tinggal di sana, hanya Pak Junaedi yang tampak paling waras. Dia kelihatan amat intelek: pakai kacamata, kemeja rapi, dan celana kain berwarna hitam. Ia tampak cemerlang. Sepatu pantofelnya pun selalu mengkilap. Tiap pagi selalu dia elap, macam keris milik Pak Bambang—dia jago bertenung, omong-omong.

Katanya juga, Pak Junaedi pernah mengajar jadi dosen. Sayang, napsu menenggelamkan logika. Hasrat bikin ia menggila dan ia berakhir di lantai 33.

Tapi, yah, orang bilang, “Yang mirip, bakal jadi sobat karib.”

Mereka sama, tapi tidak semua. Yang berdosa akrab dengan yang berdosa. Yang difitnah akrab dengan yang difitnah.

Tidak ada yang tahu bagaimana bisa mereka tinggal di sana cuma-cuma. Yang penting mereka tidak akan mengganggu siapa-siapa, mau itu orang biasa atau pun pemerintah.

Gim

Yang bikin sengsara. Yang bikin merana.

Solihin tidak pernah tau bakal begini jadinya ketika ia mengunduh gim itu pada ponsel. Ruang memori untuk bermain memang pas-pasan, tapi ia paksakan hanya demi kepuasan fana.

Solihin keluarkan beberapa juta. Sudah habis duitnya dan membuat orang lain menggelenglan kepala. Ada pula yang tertawa yang melihat Solihin menderita. Ada juga yang terkena imbasnya. Yang jelas gim itu bikin dia terlunta-luta.

Hidup Solihin di kota besar. Untuk beli es teh saja butuh lima ribu rupiah. Tak ada kembalian, pas segitu saja. Apalagi untuk makan. Di warteg pun belum tentu murah. Tapi demi gacha, Solihin tidak masalah.

Gajinya ia tukar dengan cewek virtual. Suara mereka melengking dan menghilangkan nestapa. Mau itu saat kerja atau sepulang kerja. Mau itu saat pagi menjelang atau saat malam datang.

Solihin sayangi haremnya yang ia dapatkan mengandalkan keberuntungan. Semua ia berikan untuk mereka. Hati, waktu, hingga uang. Kadang ia meminjam pada kawannya.

Dan Solihin hanya bisa cengesan saat kawannya bertanya, “Buat apa?”

“Tentu saja gacha.”

Sabar

Bagai kembang di antara semak belukar. Tampak rapuh di antara orang-orang kekar. Kau dengar mereka berkelakar.

Tentangmu, tentangnya, tentang semua.

Namun, kau tidak pernah menentang. Padahal kau tidak senang. Sementara aku hanya bisa berharap kau bertenang.

Tiga, dua, satu.

Kau mencoba untuk sabar. Ditarik dalam-dalam napasmu. Tapi kemarahan itu makin mebesar. Lantas mengapa engkau tidak melawan?

Lama kelamaan aku merasa bosan dengan tingkahmu. “Sabar saja,” katamu. “Ini cobaan.”

Tetap saja, bagiku itu irasional. Kau bisa membela diri, tapi mengapa berserah diri?

Berulang kali aku bilang, “Kau harus melawan. Tidak bisa diinjak terus-terusan.”

Tapi engkau hanya tersenyum pasrah. “Aku hanya orang kecil,” jawabmu. “Apa yang bisa dilakukan kelinci di hadapan harimau? Mau melompat pun, mereka tetap akan diterkam,” ia terdengar pasrah. “Lagipula, kau tahu apa? Hidup kita jelas berbeda. Kau punya segalanya, aku tidak. Kau bisa makan sampai kenyang, sedangkan aku tidak tidak punya uang.”

Ia mengibaskan tangan dan mengusirku pergi, “Sudahlah, kalau kau enggan, berhenti mencoba berkawan. Berhenti pura-pura. Aku tahu kau punya alasan, dan aku tidak senang. Tidak ada gunanya.”

Ia tahu aku hanya menggunakannya untuk menambah pamor maupun menarik simpati orang-orang. Aku tahu bahwa sejak lama ia tidak pernah suka ini semua. Maka kali itu aku tinggalkan dirinya, mencari lagi pengemis di jalan yang lebih jinak, yang mau diajak bekerja sama.A

Elegi Pagi

Dua kali aku melihatmu.

Begitu jelas rupamu sampai-sampai aku kira itu kita benar bertemu.

 

Yang pertama, kulihat kau duduk di kursi mobil.

Saat itu terang.

Aku lihat rupamu dengan jelas. Rambut pendek yang tipis sebahu. Wajah lebar seperti loyang kue, hidung besar yang menghelakan napasmu, mata sipit yang memandang lurus ke depan, maupun bibir kecil yang tersenyum lemah waktu aku bertanya,

“Kau suka?”

Aku pun teringat sesaat setelahnya: kau tak pernah menjawabnya pertanyaan itu.

Bukan, bukan itu.

Kau tak bisa menjawabnya.

 

Di hari lain aku melihatmu terduduk bersama kawanmu dengan asyik.

Kulihat kau tertawa, padahal tak jelas kalian berkata apa.

Aku di sana hanya diam dan memperhatikan bagaimana engkau tampak senang,

atau kerut pada wajahmu yang tersisa perjuangan waktu dulu.

Kau buat noktah menjadi garis panjang.

Kadang lurus, kadang bergelombang.

Namun, garis itu tak lagi kau buat.

Bukan di sini.

 

Aku terus melihatmu.

Lalu, seperti sebelumnya aku bertanya,

“Kau suka?”

Kali ini aku melihatmu dengan lebih jelas wajah yang menoleh ke arahku.

Tawamu reda sebagaimana kawan-kawanmu pergi menjauh.

Kau pandangi aku dengan matamu yang sayu.

Pada bibirmu yang berwarna merah jambu, kau lengkungkan senyummu untukku.

Lagi, kau tak menjawab;

bukan karena tak mau, tapi karena tak bisa.

Kemudian aku teringat:

hari-hari sebelumnya dari dua itu.

Saat terakhir aku melihatmu.

 

Kau tutup bola matamu.

Tak kudengar dengkurmu, maupun melihat kakimu bergerak-gerak seolah kau mengayuh sekoci.

Aku selalu tahu sejak lama:

kau tak pernah tenang saat memejamkan mata.

Aku tak tahu kenapa,

kau pun juga.

Namun, saat itu kau tidur dengan lelap,

benar-benar lelap.

Saat itu, aku sadar bahwa ini adalah realita,

dan sebelumnya hanyalah imaji belaka.

[RP FIC] mimpi #3

Arttu Whipple kembali bermimpi. Mimpi itu merupakan lanjutan dari mimpi sebelumnya. Mengenai dirinya di dunia lain, yang baru melamar seseorang.

Namun di mimpi kali ini Arttu tidak bangun dengan senyum sumringah. Pipinya lengket dengan air mata, matanya berat untuk di buka, kepalanya terlalu pening untuk sekedar menoleh, dan dadanya terasa sesak. Saat gedor pada pintu kamarnya, disertai suara kakeknya yang tegas, dia tidak mampu menyahut. Dia tetap diam terbaring di sana dan merenungkan mimpi yang baru saja didapatnya.

(more…)

[RP FIC] mimpi #2

“Oh, jangan-jangan kau mau jadi calonnya? Ha ha. Kalau kau memang mau, kumasukan namamu dalam daftar.” Arttu Whipple, berambut ungu kala itu, tersenyum timpang sambil mengayunkan kakinya di bawah meja. Dia topang wajahnya dengan kedua tangan dan memperhatikan perempuan berambut hitam itu lekat-lekat, tak sabar menanti reaksinya.

“Oh, Kau sudah punya list-nya? Hmm, menarik. Aku ingin coba juga.” Berkebalikan dengan Arttu, perempuan itu fokus pada makannya dan tidak memperhatikan lawan bicaranya saat berbicara.

(more…)

[RP FIC] mimpi #1

Hal yang dicarinya pertama kali ialah cermin untuk mematut diri. Dia sentuh rambutnya yang berwarna cokelat dan memastikan bentuknya masih bergelombang. Kemudian dia dekatkan wajahnya untuk melihat kedua irisnya, sama-sama cokelat, bukan hitam-merah.

Semalam dia bermimpi, mimpi yang begitu absurd. Rambutnya platina, matanya tertutup satu. Sebelah kanan beriris hitam, sementara sebelah kiri yang ditutupnya berwarna merah darah. Mulanya dia berpikir itu mimpi acak yang datangnya sekali dan cepat berganti ke mimpi lain, dengan anonim sebagai tokoh utama. Namun, saat orang lain berteriak “Arttu!” dia tahu pemuda itu adalah dirinya dalam wujud lain.

(more…)

[DRABBLE] Pengisi Jalan

Banyak orang di jalan itu menyerukan namanya. Tak semuanya yang di sana tahu siapa dia, kenal siapa dia. Jangankan itu. Bertemu atau ingat wajahnya saja belum tentu. Hanya nama yang mereka ingat. Itupun karena diucap berkali-kali.

Di bawah teriknya sinar matahari, mereka masih berjalan dengan peluh di sekujur tubuh. Nyanyian yang sama terus terdengar bagai doktrin masyarakat sekitar. Ada yang bertanya, “Siapa dia?” dan yang ditanya hanya menggeleng dan berkata dengan cepat “Udah, pilih aja”.

Bunyi klakson menggema, suara makian terdengar. Mereka masih berjalan mengitari kota, di atas jalan aspal bagai wajah di atas kompor. Tak habis pikir, mereka yang melihatnya. Jalanan penuh karena mereka. Orang marah karena mereka. Tapi ingatkah kita untuk siapa mereka ada di sana?

Kala mereka ditanyakan hal itu, mereka akan berhenti melangkah dan suara nyanyian itu sirna. Mereka pun terdiam. Keheningan itu jelas terasa. Si Penanya bisa saja mencemooh atau tetap menunggu dalam kebisuan. Dan ketika jawaban itu muncul, bisa saja dia jadi menganga atau malah semakin kesal.

“Ya udah, sih, pilih aja.”

Semua pertanyaan, sederhana maupun biasa, dijawab mereka dengan frase sama, namun ada variannya.

Mereka tak ada pilihan. Hanya jawaban itu yang bisa diutarakan. Mereka mana mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mereka mana bisa bilang karena dengan begitu upah mereka bisa dipangkas tanpa ampun.

Bagaimana anak dan istri mereka?

Itu adalah alasan lain mengapa mereka tak ingin banyak bicara. Itu adalah satu alasan dari sekian hal lain yang mereka jadikan landasan turun ke jalan. Lalu ketika tugas suci itu tuntas, mereka akan kembali ke rumah dan berkumpul dengan orang-orang tercinta, terdekat, atau barang-barang yang ditinggal.

“Dia pasti menang!” telunjuk Pak Heri mengarah pada sosok di layar kaca. Lalu anak gadisnya itu pun mengangkat kepala dan menghentikan makan malamnya.

“Kok bisa, Pak?” Dewi terheran-heran melihat bapaknya berbicara begitu percaya diri.

“Makan lagi saja, Nak, Bapak kamu tuh sok-sokan jadi dukun.” Bu Heri pun memunclkan tawa di rumah kayu itu.

“Ojo ngono lah, nomor kui paling cetho, Bu.1” Pak Heri, meski tadi juga ikut tertawa, tetap ngotot kalau sosok di layar kaca itulah yang akan menang.

 

catatan kaki: Ditulis pada Dec 26, 2014.

terjemahan: Jangan gitu, lah, B. Nomor ini yang paling bagus.